Massa jenis bata ringan menjadi alasan kenapa material ini bisa menggantikan bata merah biasa. Meski ukurannya besar, tapi ada massa yang jauh lebih kecil sehingga potensial untuk konstruksi tertentu.
Memahami berat jenis bata ringan bukan hanya soal perhitungan, tapi juga soal kecepatan, efisiensi, sampai keamanan jangka panjang. Oleh sebab itu, massa jenis material ini bisa terlepas dari pembahasan konstruksi dan bangunan.
Standar Massa Jenis Pada Bata Ringan
Sesuai aturan SNI, ukuran standar bata ringan adalah 60x20x10 cm. Sedangkan rata-rata massa jenis bata ringan sendiri adalah sekitar 500-650 kg/m3. Jika terlalu berat, maka akan berpengaruh pada konstruksi.
Apabila dibandingkan dengan bata merah, maka bata ringan akan memiliki massa yang lebih minim. Bata merah umumnya memiliki massa jenis sekitar 1.500-2.000 kg/m3. Jadi meski ukurannya lebih kecil, tapi massa bata merah lebih besar.
Kondisi tersebut sangat mungkin terjadi karena bata ringan masuk proses produksi khusus yang mampu menciptakan pori-pori udara. Jadi meski sangat ringan, spesifikasi bata ringan tetap kuat.
Massa jenis rendah memang menguntungkan proses dan hasil konstruksi, tapi pemilihan bata ringan tetap harus sesuai standar agar terhindar dari risiko kekuatan tekan. Jadi tidak semua produsen bata ringan bisa menjadi pilihan apabila mengacu pada konsep tersebut.
Hubungan Massa Bata Ringan dengan Konstruksi
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bobot bata ringan sangat berpengaruh pada proses dan hasil konstruksi. Setidaknya ada 4 alasan kenapa massa bata ringan berhubungan dan justru menguntungkan konstruksi secara menyeluruh. Berikut penjelasannya:
1. Mengurangi Beban Mati
Saat bangunan terbentuk, maka konsep beban mati wajib menjadi pertimbangan. Bukan hanya isi bangunannya saja, namun juga dinding yang membentuk. Justru dinding inilah yang menjadi penyumbang terbesar dalam konsep beban mati atau dead load.
Pada tahap itulah, perlu adanya massa jenis rendah khususnya untuk bagian dinding agar dampak ke fondasi bisa lebih kecil. Jadi massa jenis bata ringan yang lebih minimalis akan sangat membantu dalam hal ini.
Pemanfaatan bata ringan dalam struktur bangunan memungkinkan dimensi beton bisa lebih kecil. Namun di saat yang bersamaan, keamanan bangunan tetap terjaga tanpa harus mengambil risiko besar.
Secara terstruktur, bata ringan tidak hanya mengurangi jumlah benda mati dalam konstruksi. Namun massa bata ringan yang cenderung kecil akan berpengaruh pada penghematan biaya, volume material lain, serta tenaga kerja.
2. Mempercepat Konstruksi
Massa jenis bata ringan yang cenderung kecil juga mampu mempercepat proses konstruksi. Semakin kecil massa materialnya, maka mobilisasi di area proyek juga semakin mudah terutama untuk bangunan lantai atas.
Kemudian secara waktu, ukuran bata ringan yang cenderung besar akan membuat tukang lebih cepat selesai memasangnya. Bahkan untuk area dinding yang luas, proses pengerjaan panjang bisa diminimalisir.
Tidak hanya itu, pengerjaan konstruksi sendiri erat hubungannya dengan kelelahan pekerja. Namun karena material yang terpakai lebih ringan dengan ukurannya besar, maka produktivitas pekerja akan lebih terjaga.
Penggunaan bahan perekat yang lebih cepat kering juga menjadi penentu lainnya. Jadi dengan semua aspek tersebut, maka keunggulan bata ringan untuk bangunan tidak perlu diragukan lagi.
3. Memperkuat Kemampuan Insulasi
Tidak banyak yang tahu jika massa jenis bata ringan juga berkaitan dengan kemampuan hambat panas pada bangunan. Padahal jika semakin kecil massa jenisnya, maka konduktivitas termal akan semakin rendah.
Kemampuan insulasi bangunan yang lebih kuat karena massa jenis material rendah ini akan mengurangi ketergantungan pada AC secara signifikan. Oleh sebab itu, penghematan listrik dalam jangka panjang juga sangat memungkinkan.
Alasan kenapa hal ini bisa terjadi adalah karena ada pori-pori dalam bata ringan. Selain menjadi sirkulasi udara aktif, pori-pori ini juga mampu meredam kebisingan dari luar maupun antar ruang.
Jadi meski bata ringan terkesan hanya fokus ke massanya yang kecil, tapi keunggulannya juga merambah pada aspek kenyamanan pengguna. Hal ini justru memungkinkan penggunaan bata ringan semakin masif di era bangunan modern.
4. Mengurangi Beban Inersia
Beban inersia adalah kecenderungan mempertahankan keadaan gerak. Massa jenis bata ringan yang cenderung kecil mampu mengurangi beban inersia bangunan khususnya saat terjadi gempa.
Dinding yang ringan akan memberikan tekanan horizontal lebih kecil. Jadi pemanfaatan bata ringan justru memberi tingkat keamanan yang lebih tinggi. Hal ini tidak hanya berlaku untuk bangunan satu lantai, namun juga beberapa lantai ke atas.
Oleh sebab itu, standarisasi berat bata ringan SNI wajib menjadi perhatian agar risiko keruntuhan dinding lebih rendah. Standar ini wajib menjadi tolak ukur produsen bata ringan sebagai bentuk perhatian pada konsumen.
Hal tersebut juga sudah menjadi pertimbangan utama bata ringan merk Citicon. Perusahaan ini tidak hanya menyediakan bata ringan AAC dengan massa jenis sekitar 530-650 kg/m, tapi juga spesifikasi dan standarisasi yang mumpuni sesuai ketentuan.
Penutup
Berdasarkan pemaparan di atas, massa jenis bata ringan bukan hanya soal kemudahan mobilisasi tapi juga kelebihan lainnya. Sebelum menentukan jenis bata, akan lebih baik memahami massa jenis serta keunggulan pemanfaatannya secara menyeluruh.